Awal Mula konsep sehat
Pemahaman akan sehat telah muncul sejak tahun 700 SM, dimana sehat dinyatakan sebagai sesuatu yang dibanggakan, sedangkan sakit adalah hal yang sangat tidak berguna. kemudian berkembang menjadi aliran cartesian pada tahun 1700, sehat diartikan sebagai suatu keadaan dimana tidak ditemukannya disfungsi alat tubuh, mental, dan roh. sehingga dari pemahaman tersebut mengindikasikan bahwa kesehatan merupakan urusan ahli agama.
Tahun 1960, pengertian kesehatan masih terbatas hanya sebagai tujuan hidup dan belum dikaitkan dengan tujuan pembangunan. Tujuan utama kesehatan adalah tercapainya keadaan hidup sehat, dan belum sampai pada hidup produktif.
Konsep Sehat pada saat ini didefinisikan sebagai:
Konsep Grossman (1972)
Kesehatan mempunyai fungsi produksi dan modal tahan lama. Sehat mirip dengan stok barang ekonomi yang dapat berkurang/ bertambah seiring dengan bertambahnya waktu. Mereka yang mempunyai stok kesehatan meningkat, maka produksinya meningkat pula apalagi didukung dengan ketrampilan dan modal.
Upaya kuratif dianggap tidak efisien, sebaliknya upaya produktif dan preventif yakni tercegahnya seseorang karena tidak sakit sehingga dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan.
Ottawa Charter (1986)
Definisi tentang sehat telah memasukkan unsur sehat produktif sosial dan ekonomi. Upaya kesehatan harus sampai sehat produktif yakni sehat yang mempunyai nilai ekonomi.
Dekade Human Development (1990)
Keterkaitan antara kesehatan dan pembangunan (SDM) hidup lebih lama, sehat, dan berpenghasilan cukup.
1. HDI sebagai salah satu indikator pembangunan
2. Decade of Human Development (1990)
3. The Year of Human Resources Development (1992)
4. Millenium Development Goal (MDG, 2000)
Sumber http://elisa.ugm.ac.id
Paradigma masyarakat hari ini masih belum beranjak dari kondisi dimana sehat masih diartikan dengan keadaan fisik saja. Upaya yang dilakukan pun lebih banyak pada permasalahan penanganan masalah-masalah kuraitf kesehatan. indikator dari suatu daerah sehat dinyatakan dengan keadaan fasilitas/sarana pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu, atau lainnya serta kuantitas tenaga kesehatan.
Bagaimanakah paradigma kesehatan ideal?
Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengkaji bahwa kesehatan adalah hak dsar / hak azasi Manusia. berbicara masalah hak, berarti sesuatu yang secara mutlak harus didapatkan oleh manusia. sehingga pembicaraan kita tentang sehat merupakan sesuatu kondisi yang harus didapatkan oleh individu.
dari pernyataan tersebut, maka sakit adalah kondisi dimana hak tidak terpenuhi. dari pendefinisian ini, maka seharusnya dan selayaknyalah setiap pihak yang terkait harus mengupayakan agar tidak terjadi kondisi sakit. selain terpenuhinya hak, ketika kita sehat, maka akan mudah menghasilkan sesuatu (fungsi produktif).
maka upaya yang dilakukan adalah Preventif (pencegahan) tanpa menafikan proses kuratif, namun porsi yang lebih besar pada preventif adalah hal yang ideal.
untuk melakukan pencegahan (promotif) maka yang harus dilakukan adalah penyadaran terhadap masyarakat lewat aksi-aksi penyuluhan (promotif) dan lainnya.
permasalahan kesehatan bersumber dari kompleksitas permasalahan, terkait dari beberapa aspek yang mungkin selama ini bukan menjadi kajian tenaga kesehatan. seperti contoh, kondisi busung lapar, diakibatkan salah satunya oleh karena kekuangan pangan (pertanian), penyakit ISPA disebabkan oleh kondisi jalan raya yang rusak. menilik hal tersebut, maka melakukan proses preventif kesehatan harus ada korelasi dengan kondisi-kondisi lain yang dikhawatirkan menimbulkan kondisi yang tidak sehat.
*Diolah dari berbagai sumber
Rabu, 01 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar